PALOPO – Bagi sebagian orang, nama kampus bisa berubah seiring waktu. Tapi bagi Nurlinda, UIN Palopo bukan sekadar ganti papan nama. Kampus itu saksi hidup perjalanannya dari masa STAIN Palopo, IAIN Palopo, hingga resmi menjadi UIN Palopo.
“Kalau orang bertanya saya kuliah di mana, jawabannya pasti panjang. Saya kuliah di tiga masa: STAIN, IAIN, sampai UIN Palopo. Dan saya bangga dengan itu,” ungkap Nurlinda.
Bagi Nurlinda, bertahan di almamater yang sama selama perubahan status itu bukan karena terpaksa. Justru sebaliknya. Kualitas, kredibilitas, dan rasa nyaman yang diberikan kampus membuatnya setia menuntut ilmu di sana.
“Bukan karena tidak ada pilihan lain. Tapi karena sudah merasa aman, nyaman, dan percaya dengan kualitasnya. Dari STAIN sampai UIN, standar dan integritasnya tidak pernah diragukan,” ujarnya.
Hari ini, rasa setia itu kembali berbuah amanah baru. Nurlinda dipercaya mengemban tanggung jawab lanjutan di kampus yang telah menemani jenjang pendidikannya.
Ia pun menyampaikan apresiasi untuk para dosen yang selama ini membimbing, serta Rektor UIN Palopo Dr. Abbas Langaji yang dinilainya membawa perubahan besar bagi kampus.
“Terima kasih untuk dosen-dosen hebat dan untuk Bapak Rektor Dr. Abbas Langaji. Sukses selalu untuk UIN Palopo. Semoga terus jadi pilihan utama masyarakat untuk kuliah,” tutupnya.
Dari STAIN ke IAIN lalu UIN, satu hal yang tidak berubah bagi Nurlinda: rasa bangga menyebut dirinya bagian dari keluarga besar UIN Palopo.
