Luwu Timur– Kemarin, ruang seleksi di Kantor Dinas Pendidikan Luwu Timur dipenuhi calon-calon terbaik yang mendaftar sebagai Dewan Pendidikan Kabupaten Luwu Timur. Tes tulis, wawancara, hingga pemaparan visi-misi digelar untuk menjaring sosok yang benar-benar paham dunia pendidikan dan siap mengabdi.
Momentum ini jadi penting. Pasalnya, Dewan Pendidikan adalah mitra strategis Pemkab dan DPRD dalam merumuskan kebijakan, mengawasi mutu pendidikan, serta menjembatani aspirasi masyarakat, guru, dan orang tua siswa. Di usia Luwu Timur yang ke-23 tahun ini, publik berharap dewan yang terpilih nanti bisa jadi lokomotif perubahan. Kamis 11 / 06 / 2026
“Siapa pun yang Terpilih, Itulah yang Terbaik”
Proses seleksi berlangsung ketat sejak pagi. Para calon diuji kompetensinya: mulai dari pemahaman regulasi pendidikan, problem solving di sekolah, hingga gagasan memajukan mutu guru dan sarana belajar.
Ketua Panitia Seleksi menegaskan seleksi dilakukan transparan dan profesional. “Kami tidak lihat nama besar atau kedekatan. Yang kami cari orang yang punya integritas, pengalaman, dan cinta pendidikan Luwu Timur. Siapa pun yang lolos tes hari ini, itulah yang terbaik ,” ujarnya.
Harapan: Dewan Pendidikan Harus Lebih Baik dari Sebelumnya
Di luar ruang tes, harapan masyarakat Luwu Timur mengemuka deras. Pesan intinya satu: dewan yang terpilih nanti harus lebih baik dari periode sebelumnya. Bukan sekadar formalitas, tapi benar-benar kerja untuk memajukan pendidikan.
“Kami mau pendidikan di Luwu Timur lebih maju. Jangan sampai ada lagi sekolah kekurangan guru, anak-anak belajar di kelas bocor, atau lulusan SD-SMP yang baca-tulisnya masih lemah,” ujar seorang tokoh pendidikan setempat.
Harapan itu wajar. Data Dinas Pendidikan menunjukkan Luwu Timur punya ribuan siswa SD-SMP-SMA dan ratusan sekolah tersebar sampai pelosok. Tantangannya besar: pemerataan guru, peningkatan literasi-numerasi, sekolah layak, hingga menyiapkan lulusan yang siap kerja dan kuliah.
Karena itu, publik menitip 3 harapan besar ke Dewan Pendidikan periode baru:
1. Berani bersuara untuk mutu: Mengawasi dan memberi rekomendasi jujur ke Pemkab dan DPRD, tanpa sungkan.
2. Dekat dengan sekolah: Turun ke lapangan, dengar keluh kesah guru dan kepala sekolah seperti Kurnia dari SDN 227 Puncak atau kepsek SDN 234 Kore-Korea yang kemarin viral pakai baju adat di HUT Luwu Timur.
3. Gagasan yang membumi: Programnya nyata, bukan wacana. Misal: pelatihan guru, bantuan buku, penguatan pendidikan karakter dan budaya lokal.
Menanti Nama-Nama Terbaik
Hasil tes kemarin akan dirangkum panitia lalu diserahkan ke Bupati untuk penetapan. Masyarakat diminta bersabar dan percaya proses. Karena pada akhirnya, pendidikan maju bukan ditentukan satu orang, tapi kerja kolektif: pemerintah, DPRD, dewan pendidikan, guru, orang tua, dan siswa.
Seperti pesan warga: “Siapa pun yang terpilih nanti, itulah yang terbaik. Tapi tugas kami mengawal. Kami mau lihat Luwu Timur punya sekolah hebat, guru hebat, dan anak-anak hebat.”
Di usia 23 tahun, Luwu Timur sedang menulis babak baru. Dan dari ruang tes kemarin, semoga lahir nama-nama yang akan jadi penulis terbaiknya: Dewan Pendidikan yang membawa pendidikan Lutim naik kelas.
