Luwu Timur— Langit masih gelap ketika langkah kaki anak-anak mulai menuju Masjid H. Dandu Kasim, Dusun Korekorea, Desa Wewangriu, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, Sabtu 29/ 08/ 2026.
Mereka bukan sekadar datang untuk menunaikan salat Subuh. Para siswa UPT SDN 234 Korekorea tersebut tengah menjalankan program Pejuang Subuh, sebuah gerakan yang mendorong anak-anak membiasakan diri bangun pagi dan melaksanakan salat berjamaah di masjid sejak usia dini.
Kepala UPT SDN 234 Korekorea, Uci Sarpati, S.Pd., turut hadir memantau langsung kegiatan tersebut. Ia sekaligus ikut melaksanakan salat Subuh berjamaah bersama para siswa.
Suasana penuh kebersamaan terlihat di antara para siswa. Mereka tampak antusias dan senang bisa berkumpul bersama teman-temannya untuk menunaikan ibadah di masjid.
Bagi Uci, kegiatan tersebut bukan hanya soal menjalankan ibadah, tetapi juga bagian dari proses membangun karakter dan kebiasaan positif anak sejak dini.
“Program ini sangat bagus untuk anak-anak kita agar terbiasa melaksanakan salat berjamaah di masjid. Dari dini anak-anak harus dibiasakan bangun Subuh dan melaksanakan salat berjamaah,” kata Uci.
Menurutnya, program Pejuang Subuh mendapat sambutan positif dari masyarakat, khususnya para orang tua siswa. Mereka melihat adanya perubahan kebiasaan pada anak setelah mengikuti program tersebut.
Salah seorang orang tua siswa mengaku sangat bersyukur dengan adanya program tersebut. Ia menilai kebiasaan beribadah yang ditanamkan sejak kecil akan menjadi bekal penting bagi anak-anak ketika mereka tumbuh dewasa.
“Alhamdulillah, sejak adanya program Pejuang Subuh, anak saya sudah ada perubahan. Kami sangat senang dan menyambut baik program ini. Kalau sejak kecil sudah terbiasa salat di masjid, insyaallah kebiasaan itu akan dibawa sampai dewasa,” ujarnya.
Uci menilai dukungan orang tua dan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam keberlangsungan program tersebut. Menurutnya, pembentukan karakter anak tidak cukup hanya dilakukan di lingkungan sekolah, tetapi membutuhkan dukungan keluarga dan masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Luwu Timur, Raoda K., S.Pd., M.Si., yang dinilai konsisten memberikan semangat, motivasi, dan arahan kepada para guru dalam menjalankan program pemerintah daerah.
“Teman-teman guru berterima kasih kepada Ibu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Luwu Timur yang selalu memberikan semangat, motivasi, dan arahan kepada kami. Dukungan itu membuat kami semakin bersemangat menjalankan program pemerintah, khususnya Pejuang Subuh,” tutur Uci.
Program Pejuang Subuh yang dijalankan di lingkungan pendidikan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Lebih dari itu, gerakan ini diharapkan mampu menanamkan kedisiplinan, kebersamaan, serta kecintaan anak terhadap ibadah dan masjid.
Bagi para guru dan orang tua, kebiasaan sederhana seperti bangun sebelum fajar dan melangkahkan kaki menuju masjid diyakini dapat menjadi fondasi pembentukan karakter anak di masa depan.
Dari Masjid H. Dandu Kasim, semangat itu terus dirawat—membiasakan anak-anak menjemput Subuh, menumbuhkan kebersamaan, dan menanamkan nilai religius sejak dini.
