Luwu Timur — Program Pemerintah Kabupaten Luwu Timur melalui gerakan Pejuang Subuh mendapat sambutan positif dari berbagai pihak, termasuk dunia pendidikan. Salah satunya datang dari keluarga besar SDN 227 Puncak, Kelurahan Malili, yang turut mendorong para siswa untuk membiasakan diri melaksanakan salat Subuh secara berjamaah.
Program yang digagas di bawah kepemimpinan Ir. H. Irwan Bahri Syam, S.T., I.P.M. dan Ir. Hj. Puspawati Husler tersebut dinilai memberikan dampak positif dalam membangun karakter dan kedisiplinan spiritual anak-anak sejak usia sekolah. Kamis 17/9/2026
Kepala SDN 227 Puncak, Kurnia, S.Pd., mengatakan bahwa membiasakan anak-anak bangun dan melaksanakan salat Subuh berjamaah memang bukan perkara mudah. Namun, jika dilakukan secara terus-menerus, kebiasaan tersebut akan menjadi bagian dari keseharian mereka.
“Salat Subuh berjamaah itu tidak mudah, tapi kalau dibiasakan akan mudah kita lakukan,” kata Kurnia.
Ia menjelaskan, dirinya bersama para guru turut mendampingi siswa untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah di Masjid Yakul Yakin Puncak, Kelurahan Malili.
Menurutnya, para siswa justru menunjukkan antusiasme yang tinggi. Mereka merasa senang dapat melaksanakan ibadah bersama teman-teman sekolahnya dalam suasana yang penuh kebersamaan.
“Saya bersama guru mendampingi siswa saya untuk melaksanakan salat Subuh berjamaah di Masjid Yakul Yakin Puncak. Mereka sangat senang bisa berjamaah bersama teman-temannya,” ujarnya.
Kurnia menilai, kehadiran gerakan Pejuang Subuh menjadi salah satu pemicu positif bagi anak-anak untuk lebih disiplin dalam menjalankan ibadah. Perlahan, siswa mulai memahami bahwa ketika waktu salat tiba, mereka harus segera bergegas menunaikannya.
“Adanya Pejuang Subuh ini membuat anak-anak ketika masuk waktu salat, mereka bergegas untuk melaksanakan salat berjamaah,” tambahnya.
Gerakan Pejuang Subuh tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter bagi generasi muda. Kebiasaan bangun pagi, berkumpul di masjid, serta melaksanakan ibadah bersama diharapkan dapat menanamkan nilai kedisiplinan, kebersamaan, dan tanggung jawab dalam diri para siswa.
Dukungan dari pihak sekolah menjadi bagian penting dalam keberlanjutan gerakan tersebut. Dengan pendampingan guru dan dukungan keluarga, kebiasaan salat berjamaah diharapkan tidak berhenti sebagai sebuah program, tetapi tumbuh menjadi budaya positif yang melekat dalam kehidupan anak-anak Luwu Timur.
Melalui semangat Pejuang Subuh, masjid pun diharapkan semakin ramai oleh generasi muda, sementara sekolah tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga menjadi salah satu tempat tumbuhnya karakter dan nilai-nilai keagamaan para siswa.
Liputan, Munar
